
RajaKomen.com — Dalam lanskap komunikasi politik Indonesia yang masih sarat dengan basa-basi, gaya Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia tampil beda. Gaya komunikasinya yang lugas, tegas, dan langsung ke pokok persoalan kini ramai diperbincangkan dan bahkan dijuluki sebagai gaya “Bahlilian”.
Istilah ini mengacu pada pola komunikasi yang tidak bertele-tele, minim ornamen retorika, namun sarat makna. Dalam konteks ini, sejumlah pihak bahkan membandingkannya dengan komunikasi ala Spartan dari zaman Yunani Kuno—singkat, tajam, dan menghentak.
Bangsa Spartan dikenal dengan Laconism: komunikasi satu kata yang mengguncang. Seperti ketika Raja Philip II dari Makedonia mengancam, "Jika aku menyerang Laconia, aku akan menghancurkan kalian." Jawaban Spartan hanya satu: "Jika." Begitulah kekuatan pesan dalam kesederhanaan.
Gaya komunikasi serupa ditunjukkan Bahlil ketika ia menyoroti rendahnya etos kerja tenaga kerja lokal. Alih-alih menjelaskan dengan data panjang, ia memilih menyentil langsung:
"Jangan minum kopinya lebih lama dari pada kerjanya. Kita itu kadang-kadang persoalannya, salat 30 menit, makannya 20 menit, barang itu jadi 2 jam."
Pernyataan seperti ini dinilai menyentuh akar masalah secara langsung—tidak membebani audiens dengan narasi berbelit, melainkan menggugah kesadaran dengan logika sederhana.
Ketika isu tenaga kerja asing dalam proyek hilirisasi nikel menyeruak, Bahlil tetap dengan gaya Spartan-nya:
"Tetapi orang melakukan investasi ini bukan uang satu dua triliun, melainkan puluhan triliun bahkan ratusan triliun di awalnya. Dorong masuk untuk melakukan percepatan."
Gaya “Bahlilian” juga dikaitkan dengan teori Low-Context Communication oleh Edward T. Hall, di mana pesan disampaikan secara eksplisit, terbuka, dan tidak membutuhkan interpretasi terselubung. Ini bertolak belakang dengan gaya komunikasi high-context yang umum di Indonesia: penuh kode dan makna tersembunyi.
Bahlil sejajar dengan beberapa tokoh nasional dan internasional dalam hal komunikasi langsung. Di Indonesia, ia sering disandingkan dengan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang juga dikenal lugas. Bedanya, Bahlil mengemas ucapannya dalam kerangka logika ekonomi dan investasi, bukan hanya moral pelayanan publik.
Secara global, gaya ini mirip dengan Donald Trump dalam pendekatan direct communication. Namun, Bahlil menghindari provokasi emosional, dan lebih memilih penegasan berbasis data dan arah kebijakan nasional.
Namun, gaya Bahlilian bukan tanpa tantangan. Dalam era demokrasi digital yang serba cepat dan viral, pesan sederhana mudah disalahartikan. Bahlil dituntut untuk menjaga keseimbangan antara gaya lugas dengan tanggung jawab komunikasi yang dialogis, akurat, dan tidak menyulut salah tafsir publik.
Politik hari ini bukan tentang siapa yang paling lantang, tapi siapa yang paling didengar dan dipahami. Dan dalam konteks ini, Bahlil menawarkan pendekatan baru yang dapat membentuk pola komunikasi politik Golkar ke depan—lebih jujur, efektif, dan menyentuh logika publik.
Rajakomen.com
Jalan Cimanuk No. 6
Bandung 40115 - Jawa Barat
Indonesia
Informasi