
RajaKomen.com | Penerapan QRIS telah membawa kemudahan luar biasa bagi pelaku usaha dalam menerima pembayaran digital. Namun, di balik kemudahan ini, ada aspek penting yang tak boleh luput dari perhatian, yaitu pajak. Pajak dan QRIS memiliki keterkaitan yang erat, dan memahami apa yang perlu diketahui pelaku usaha akan membantu Anda tetap patuh terhadap regulasi dan menghindari masalah di kemudian hari.
Setiap transaksi yang dilakukan melalui QRIS akan tercatat secara digital. Data ini kemudian diolah dan dilaporkan oleh Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) kepada Bank Indonesia, dan pada akhirnya dapat diakses oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Artinya:
Pencatatan Otomatis: Transaksi QRIS memberikan jejak digital yang jelas atas semua penjualan Anda. Ini mempermudah otoritas pajak untuk memantau pendapatan Anda.
Transparansi Penghasilan: Era cashless dengan QRIS membuat pendapatan usaha lebih transparan dan sulit untuk tidak dilaporkan.
Kewajiban Pelaporan: Sebagai pelaku usaha, Anda memiliki kewajiban untuk melaporkan penghasilan Anda dan membayar pajak sesuai ketentuan yang berlaku, terlepas dari metode pembayarannya. QRIS hanya memperjelas dan mempermudah pemantauan penghasilan ini.
Pada dasarnya, pajak yang dikenakan atas transaksi QRIS sama dengan pajak atas transaksi tunai, karena QRIS hanyalah metode pembayaran. Pajak yang relevan meliputi:
Pajak Penghasilan (PPh):
UMKM dengan Omzet di Bawah Rp4,8 Miliar/Tahun: Mayoritas UMKM di Indonesia dikenakan PPh Final sesuai PP 23 Tahun 2018 (atau aturan terbaru). Tarifnya adalah 0,5% dari omzet bruto bulanan.
Omzet di Atas Rp4,8 Miliar/Tahun: Wajib pajak badan atau orang pribadi yang omzetnya di atas batas tersebut dikenakan PPh sesuai tarif normal (tarif umum PPh Badan atau PPh Pasal 25/29 untuk orang pribadi).
Penting: Penerimaan dari QRIS akan masuk dalam hitungan omzet bruto bulanan Anda.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN):
Jika usaha Anda adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP) (omzet di atas Rp4,8 miliar/tahun), maka Anda wajib memungut PPN sebesar 11% dari harga jual barang/jasa dan menyetorkannya ke negara.
Transaksi QRIS juga merupakan objek PPN jika usaha Anda PKP.
Pahami Kewajiban Pajak Anda:
Ketahui apakah Anda termasuk UMKM yang dikenakan PPh Final 0,5% atau sudah masuk kategori wajib pajak normal.
Konsultasikan dengan konsultan pajak jika Anda ragu mengenai kewajiban pajak spesifik usaha Anda.
Manfaatkan Pencatatan Otomatis QRIS:
Sistem QRIS (melalui aplikasi merchant atau dashboard PJP Anda) secara otomatis mencatat setiap transaksi. Manfaatkan data ini untuk membantu Anda dalam pembukuan dan pelaporan pajak bulanan/tahunan.
Data ini bisa menjadi bukti otentik omzet Anda.
Bayar Pajak Tepat Waktu:
Lakukan pembayaran PPh Final 0,5% bulanan Anda tepat waktu.
Jika Anda PKP, setorkan PPN tepat waktu.
Keterlambatan pembayaran pajak dapat mengakibatkan sanksi denda.
Siapkan Dokumen Lengkap:
Simpan semua catatan transaksi QRIS, laporan penjualan dari PJP, dan bukti pembayaran pajak Anda. Ini penting jika sewaktu-waktu ada pemeriksaan dari DJP.
Perhatikan Kebijakan Biaya QRIS:
PJP QRIS mungkin mengenakan MDR (Merchant Discount Rate) atau biaya transaksi per pembayaran. Biaya ini umumnya dapat dicatat sebagai biaya operasional usaha Anda.
Catatan: Tarif MDR untuk UMKM mikro saat ini adalah 0%, sedangkan untuk UMKM kecil dan menengah berbeda. Periksa kembali informasi dari PJP Anda.
QRIS bukanlah alat untuk menarik pajak baru, melainkan alat yang membuat sistem pajak lebih efisien dan transparan. Dengan pemahaman yang baik, pelaku usaha dapat memanfaatkan kemudahan QRIS sekaligus tetap patuh terhadap kewajiban perpajakan mereka.
Rajakomen.com
Jalan Cimanuk No. 6
Bandung 40115 - Jawa Barat
Indonesia
Informasi